Agama LeluhurVideo

Tari dan Spiritualitas Penghayat Kepercayaan

Seni identik dengan keindahan yang bergantung pada persepsi indrawi, yang melingkupi penglihatan, pendengaran dan perasaan. Seni mempunyai lima cabang inti, yang satu diantaranya adalah seni tari. Seni tari sendiri mempunyai lima fungsi, yaitu sebagai tari upacara, hiburan, pertunjukan, terapi, dan pendidikan.

Konsep tentang ‘keindahan’ menjadi kajian estetika atau filsafat seni, dimulai pada era Yunani, abad pertengahan, hingga modern. Estetika sebagai kajian perseptual muncul pada abad ke-18 dan, dengan standar persepsi yang berbeda, pandangan estetika mutakhir memberikan pendekatan estetika yang berhubungan dengan formalisme terhadap sifat-sifat seni yang ditentukan dari fungsinya di dalam masyrakat seperti adanya muatan semantik, religius, etis, sosial, dan kegunaan praktis.

Selain berbagai muatan dari kesenian di atas, seni juga dapat menjadi representasi cara pandang masyarakat. Kesenian dalam tradisi adat komunitas penghayat tidak hanya berupa tampilan fisik, melainkan juga mengandung nilai moral. Salah satu yang akan disoroti dalam hal ini adalah seni tari bagi komunitas penghayat di Indonesia, yang dibicarakan dalam Forum Kamisan Online Rumah Bersama seri ke-22 pada 8 Oktober 2020 lalu dengan tema Tari dan Spiritualitas Penghayat Kepercayaan, yang diisi oleh tiga narasumber, yaitu Fredy Wowor selaku salah satu penghayat Waraney Wuaya di Minahasa, Reing dari penghayat Ada’ Mapurando di Sulawesi barat, dan Suyodarmo. Tari-tarian sebagai cabang kesenian merupakan kesenian yang kompleks, karena di dalamnya terdapat sastra (syair), musik, dan kostum (seni rupa). 

Keindahan bagi komunitas penghayat tidak hanya melekat dalam fenomena artistik, akan tetapi juga melingkupi fenomena alam. Dikotomi antara natur dan kultur sangat asing dalam persepsi kesenian penghayat. Oleh karena itu, jika memang hendak menempatkan kesenian para penghayat dalam rumusan estetika, ia harus dilihat dari dua penentu nilai seni, yaitu fungsi dan representasi.

Tarian sebagai Ekspresi Kerja

Bagi komunitas adat Minahasa, Maengket sebagai seni tari adalah salah satu aktivitas yang beriringan dengan proses tanam-menanam. Maengket sebenarnya adalah ucapan syukur dan tarian ini dilaksanakan sembari menyemai benih, menanam, dan panen. Menurut Fredy Wowor, tari Maengket memang ada seiring dengan tradisi cocok-tanam di Minahasa. Tarian ini berguna sebagai ungkapan rasa syukur karena dianugrahi panen oleh Empung Walian Wangko (Tuhan Yang Maha Esa). Tari Maengket tidak terpatok pada bentuk musik, melainkan kepentingan kerja. Oleh karena itulah seorang Walian selaku pimpnan adat dalam menentukan ritual Maengket harus terlebih dahulu membaca musim dan tanda-tanda alam lainnya untuk menentukan dilakukannya ritual, dimulai dengan ucapan syukur dengan lagu-lagu pujian, dan kemudian menjadi tarian. Dalam contoh lain, komunitas Ada’ Mapurondo memiliki empat dasar utama dalam melakukan kesenian tari. Yang paling utama adalah untuk motif kesejahteraan ekonomi, terutama masa pasca-panen, kemudian upacara-upacara lainnya seperti syukuran, perkawinan, dan kematian. 

Adanya relasi kesakralan dengan seni, menurut Sumadiyo Hadi dalam Sosiologi Tari (2005), memang lazim karena keduanya memiliki kesamaan dari segi ekspresi, emosi, psikologi, dan simbol. Karena itu, tarian sebagai ekspresi kerja ini merupakan ritual adat yang di dalamnya terdapat pemaknaan spiritual. Karena pengungkapan seni tari yang demikian sakral, tarian tersebut bagaimana pun tampak sebagai ekspresi kerja komunal, tapi ia bukanlah hiburan. Tarian komunitas adat Mapurando menekankan bahwa tarian mereka tidak untuk dipertontonkan sebagai hiburan atau dikomersialisasi secara bebas, sehingga akan sangat sulit menemukan tarian mereka di media-media arus utama. Kerahasiaan tersebut adalah sebagai bentuk bahwa tarian mereka sama-sekali tidak mempunyai hubungan dengan hiburan.

Seringkali tarian-tarian sakral mempunyai pola gerakan yang monoton atau lambat karena sangat mempertimbangkan postur tubuh. Pola gerakan monoton ini seringkali dipandang oleh akademisi yang melihat tarian adat sebagai hal yang berhubungan dengan keterbelakangan, sebagaimana diungkapkan oleh Wellaschek dalam Primitive Music: An Inquiry into the Origin and Development of Music, Songs, Instruments, Dance, and Pantomimes of Savage Races (2009). Kemonotonan pada tarian dalam komunitas ‘primitif’ itu justru karena tarian mereka untuk ritual sakral, bukan hiburan di atas panggung dengan gerakan atraktif.  

Tari ritual bagi komunitas penghayat tetap disebut seni. Namun demikian, tarian spiritual mereka tak bisa diukur unsur ‘keindahannya’ hanya dari sifat atraktifnya, busananya, pembawaannya, atau koreografinya. Ini karena seni tari bagi penghayat adalah perihal fungsi: ia indah karena ia mempunyai fungsi, baik fungsi religius maupun fungsi kultural.

Tarian dan Ruang Kosmologis

Selama ini, seni tari sebagaimana seni lainnya amat dekat sebagai objek konsumsi. Seni tari yang dapat dikatakan indah dan ikonik di dalam benak masyarakat modern kerap dekat dengan seni yang formal, ekslusif, dan mahal—pendeknya: untuk hiburan. Seni tari bagi komunitas penghayat bagaimana pun tidak akan bisa dikategorikan sebagai seni hiburan sebagaimana logika hiburan populer. Seni tari bagi pengayat merepresentasikan hal yang memang hanya mampu dikuasai oleh penghayat itu sendiri, sebagai pelaku seni. 

Seni tari dari komunitas penghayat berasal dari cara mereka mempersepsikan lingkungan dan kehadiran tubuh dalam ruang kesenian itu sendiri. Artinya, mereka memang dekat dengan asal-usul kesenian tari itu sendiri seperti kebiasaan bercocok tanam, berburu, berjalan di lumpur, dan lain-lain yang kemudian semua bentuk pengalaman ini dilestariakn menjadi bentuk kesenian tari, sebagaimana disampaikan Fredy Wowor. Ia menambahkan bahwa pelaku seni tari perlu memahami “kepekaan tubuh dan kemampuan untuk meruang.”

Selain itu, respons secara simbolik terjadi dalam tampilan seni tari, yang seringkali mengambil bahasa visual dari kosmologi lokal yang berhubungan dengan hutan, binatang, dan keadaan sosial. Bahasa visual juga terdapat dalam kostum, misalnya tari Maengket yang memakai simbol-simbol tertentu di kostum mereka seperti taring babi, tengkorak, simbol ikatan di kepala dan di pergelangan tangan sampai kaki yang menunjukkan keberanian mereka untuk berperang, kelihaian berburu, dan persatuan antara komunitas yang kuat. Pada contoh lain, tarian ritual Mapurondo lebih menonjolkan gerak tubuh yang mengikuti gerak burung yang dipercaya sebagai pedoman leluhur.

Seni tari dari komunitas penghayat mampu berbicara mengenai diri mereka sendiri. Tarian spiritual mengungkapkan makna bahwa komunitas penghayat sebagai pelaku seni mampu memahami lingkungan dan tujuan untuk apa tarian spiritual itu.


Tautan rekaman diskusi: https://www.youtube.com/watch?v=IAkg3zoKKDE

Penulis: Zulfikar RH Pohan

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button