Menemukan Diri di Anggoro Kasih
Kisah ditulis oleh Etika Filosofia
Senin Malam, 15 Februari 2026. Rintik hujan perlahan berjatuhan di jalan Srondol, Banyumanik, Semarang. Sambil membelah jalanan, motor yang kami kendarai melaju lebih cepat dari biasanya. Kami khawatir terlambat sampai di tujuan. Rumah Budaya Joglo menjadi titik lokasi tujuan kami. Pada pukul 21:06 WIB, kami sampai di halaman pendopo. Di sanalah sebuah pertemuan kecil para penghayat kepercayaan Semarang berlangsung. Sebuah forum diskusi penghayat bernama Anggoro Kasih.
*****
Malam Selasa Kliwon adalah waktu yang istimewa dalam budaya Jawa, sebab memiliki makna sebagai hari penuh kasih sayang, syukur kepada Tuhan dan penghormatan kepada leluhur. Di Semarang, tradisi ini menemukan bentuknya dalam sebuah forum diskusi bernama forum Anggoro Kasih Srondol (AKS). Bagi para inisiator diskusi, malam tersebut dianggap sebagai waktu yang tepat untuk melakukan kontemplasi dan pertemuan spiritual.
Pertemuan itu berlangsung di sebuah rumah budaya berbentuk joglo yang berada di kawasan Srondol Wetan, Banyumanik, Semarang. Lalu dikenal sebagai Rumah Budaya Joglo Srondol, yang selama bertahun-tahun menjadi ruang kegiatan kebudayaan dan dialog lintas komunitas.
Gagasan awal terbentuknya forum AKS tak lain atas prakarsa Hertoto Basuki, seorang tokoh penghayat di Semarang yang terkenal aktif memperjuangkan eksistensi dan hak-hak penghayat kepercayaan. Sebagai salah satu sesepuh paguyuban Sumarah di Jawa Tengah, ia memiliki peran sentral dalam berbagai kegiatan yang mempertemukan komunitas penghayat dengan masyarakat luas. Pun, notabene, Rumah Budaya Joglo Srondol adalah bagian dari wakafnya untuk AKS.
Hingga kini, AKS menjadi ruang pertemuan terbuka bagi banyak kalangan. Warga penghayat dari berbagai paguyuban di Semarang kerap hadir dalam forum ini, bersama mahasiswa, generasi muda penghayat, serta para pegiat budaya yang tertarik pada isu spiritualitas dan kebudayaan.
Forum ini coba menjalankan nilai yang kerap disebut dalam tradisi Jawa sebagai asah, asih, asuh. Di mana ia dimaknai sebagai saling berbagi pengetahuan, menumbuhkan kepedulian, dan merawat satu sama lain dalam perjalanan spiritual.
“AKS menjadi ruang untuk menggali kembali ajaran kepenghayatan sekaligus mencari cara agar nilai tersebut tetap relevan.” ucap Sumarwanto, pengurus AKS yang mengajar di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang dalam program studi Pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa (PKTTYME)
Universalisme dalam Kepenghayatan
Forum AKS malam itu dihadiri oleh sejumlah peserta yang datang untuk mengikuti diskusi, termasuk dua mahasiswa Untag dari program studi PKTTYME dan kami. Selain itu, hadir pula anggota AKS seperti Nurfitri dan Wildhan. Mbah Wongso adalah salah satu pandem atau tetua dalam forum. Di antara para pengurus, tampak Anthony Dedy, Soewahjo, dan Sumarwanto. Diskusi tersebut juga dihadiri oleh Yoni Handiyono, ketua AKS sekaligus putra dari almarhum Hertoto Basuki.
Diskusi malam itu dipantik oleh Soewahjo. Ia membuka percakapan dengan menjelaskan gagasan dasar yang diemban forum tersebut. Merujuk pada prinsip Jawa Memayu Hayuning Bawana, yang secara sederhana dapat dipahami sebagai upaya manusia untuk menjaga dan memperindah harmoni kehidupan. Prinsip tersebut dirumuskan melalui sebuah sesanggeman: ngudi kautamaning hurip, ngleksanani darmaning hurip, lan hanggayuh kasampurnaning hurip (mencari kemuliaan hidup, menjalankan kewajiban hidup, dan berusaha mencapai kesempurnaan hidup).
Muaranya adalah sebuah gagasan yang cukup menonjol dari AKS, yakni universalisme dalam kepenghayatan. Sebagian besar peserta forum meyakini bahwa spiritualitas yang hidup dalam tradisi penghayat pada dasarnya memiliki sifat universal. Nilai-nilai yang diajarkan tidak semata-mata milik satu paguyuban atau kelompok tertentu, melainkan berakar pada kebijaksanaan lokal yang lebih luas. Kearifan yang berkembang dalam budaya Nusantara. Nilai-nilai tersebut, dalam pandangan mereka, merujuk pada ajaran budi luhur: bagaimana manusia menjalani kehidupan dengan kesadaran moral, menjaga keseimbangan dengan alam, serta memelihara hubungan yang harmonis dengan sesama.
Sejatinya, setiap paguyuban penghayat kepercayaan di Indonesia memiliki karakteristik unik yang membedakan satu sama lain. Penghayat yang hadir di AKS pun berasal dari beragam paguyuban penghayat. Sebut saja, Anthony Dedy, Yoni Handiyono, dan Mbah Wongso dari Sumarah. Soewahjo dari paguyuban AK Perjalanan, Sumarwanto dari paguyuban Perjalanan Tri Luhur, Wildhan dari paguyuban Budi Daya, Jawa Barat, dan Nurfitri dari paguyuban Noormanto.
Meski demikian, perbedaan tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya pertentangan. Yoni Handiyono menyebut bahwa “Ajaran budi luhur sejatinya sama dari sudut mana pun. Tuhan itu satu dan milik seluruh umat manusia. Karena itu, tidak selayaknya hal yang esensinya sama dipertentangkan”.
Sebagian besar peserta diskusi menilai bahwa nilai dasar yang melandasi berbagai paguyuban itu sebenarnya memiliki kesamaan. Semua berangkat dari keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta dari upaya manusia untuk menjalani kehidupan dengan prinsip-prinsip kebaikan. “Saya mulai memahami bahwa nilai-nilai dalam kepercayaan sebenarnya sama, yang berbeda hanyalah bahasa dan cara penyampaiannya.” Kata Wildhan.
Selain itu, Yoni Handiyono juga menjelaskan bahwa gagasan tentang universalisme juga berkaitan dengan persoalan yang lebih luas, yakni posisi penghayat kepercayaan dalam sistem administrasi negara. Menurutnya, masih ada kecenderungan ego sektoral di sejumlah paguyuban yang membuat sebagian penghayat menolak dicantumkan dalam kategori “Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa” tanpa menyebutkan nama paguyuban mereka. Padahal, yang lebih penting, kata Yoni, adalah bagaimana nilai-nilai kepenghayatan tetap dipahami, dipraktikkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya, bukan semata soal identitas sektoral.
Jalan Pulang di Anggoro Kasih Srondol
Bagi Anthony Dedy, perjalanan spiritual tidak selalu berjalan lurus. Ada masa ketika ia merasa dekat dengan dunia kepenghayatan, tetapi ada pula masa ketika ia justru menjauh darinya. Pertama kali mengenal tradisi kepenghayatan terjadi pada 2005, ketika ia masih kuliah. Saat itu ia diperkenalkan pada komunitas Sumarah dan mulai belajar praktik sujud. Sebuah bentuk penghayatan yang menekankan kepasrahan batin kepada Tuhan.
Namun, pada masa itu ia belum benar-benar mendalami ajaran tersebut. Ia mengikuti praktik sujud lebih sebagai bagian dari proses belajar selama kuliah. Setelahnya, kehidupan berjalan seperti biasa. Kesibukan, pekerjaan, dan berbagai urusan lain perlahan membuat jaraknya dengan dunia kepenghayatan semakin jauh. Bertahun-tahun ia hanya datang sesekali ke forum-forum diskusi. Bahkan dalam setahun, kehadirannya bisa dihitung dengan jari.
Sampai suatu hari, ia kembali dipanggil ke Joglo Srondol. Tempat itu bukan ruang asing baginya. Di situlah dulu ia sering belajar, berdiskusi, dan menerima berbagai wewarah atau nasihat kehidupan dari para sesepuh penghayat.
Namun, ketika ia kembali duduk di pendopo joglo itu, perasaan yang muncul justru tidak ia duga sebelumnya. Ia menangis. Kenangan lama datang bersamaan dengan kesadaran bahwa banyak orang yang dulu membimbingnya kini telah tiada. Guru-guru yang dulu mengajarinya sujud dan memberi berbagai petuah kehidupan satu per satu telah pergi.
Di situlah penyesalan itu muncul. Ia menyadari bahwa ketika dahulu masih memiliki kesempatan untuk belajar dari mereka, ia justru sering absen. Waktu berlalu begitu saja. Dan ketika ia benar-benar ingin kembali mendalami semua itu, sebagian besar orang yang menjadi sumber pembelajarannya sudah tidak ada lagi.
Perasaan itulah yang kemudian ia ceritakan kepada Yoni, ketua Anggoro Kasihan sekaligus putra almarhum Hertoto Basuki. Percakapan mereka malam itu cukup sederhana, tetapi bagi Dedy terasa sangat menentukan. Yoni bertanya kepadanya: apakah ia masih ingin terus melanglang buana mempelajari berbagai ajaran spiritual di banyak tempat, ataukah ia ingin kembali menekuni jalan kepenghayatan yang sudah pernah ia kenal sejak lama.
Dedy memilih yang kedua. Ia memutuskan untuk kembali duduk di lingkaran yang sama. Suatu lingkaran percakapan yang pernah membentuk sebagian dari perjalanan batinnya. Keputusan untuk kembali ke Anggoro Kasihan ternyata bukan sekadar soal menghadiri diskusi. Saat itu forum tersebut sebenarnya sedang berada dalam masa yang tidak mudah.
Ketika almarhum Hertoto Basuki masih hidup, banyak kegiatan kepenghayatan di Joglo Srondol berjalan dengan kuat. Ia dikenal sebagai sosok yang mampu merangkul berbagai komunitas penghayat dan menggerakkan banyak kegiatan. Namun, setelah kepergiannya, forum itu sempat kehilangan arah.
Pertemuan masih berlangsung, tetapi lebih sebagai rutinitas yang dijalankan apa adanya. Dedy menyadari kondisi itu ketika ia kembali terlibat di dalamnya. Bersama Yoni, ia mulai memikirkan kembali masa depan forum tersebut. Mereka berdiskusi panjang, tidak hanya sekali atau dua kali pertemuan. Prosesnya bahkan berlangsung lebih dari satu tahun. Mereka mencoba merumuskan kembali visi dan arah Anggoro Kasihan: forum seperti apa yang ingin mereka bangun, siapa saja yang ingin mereka libatkan, dan nilai apa yang ingin mereka bagikan kepada masyarakat.
Proses menemukan bentuk yang tepat tidak selalu mudah. Kadang diskusi berjalan panjang tanpa kesimpulan yang jelas. Kadang pula muncul keraguan apakah forum kecil seperti itu benar-benar bisa memiliki dampak yang lebih luas.
Di tengah proses itu, ada satu hal yang semakin disadari oleh Dedy. Selama puluhan tahun, komunitas penghayat kepercayaan sering mengalami diskriminasi dalam berbagai aspek kehidupan. Pengalaman itu tidak hanya meninggalkan luka sosial, tetapi juga membentuk cara pandang tertentu di dalam komunitas itu sendiri.
Banyak orang terbiasa melihat diri mereka sebagai pihak yang terus-menerus menjadi korban. Bagi Dedy, pola pikir seperti itu perlu diubah. Menurutnya, jika energi komunitas hanya dihabiskan untuk meratapi ketidakadilan, maka tidak akan ada ruang untuk bergerak maju. Karena itu ia mencoba menanamkan sudut pandang yang berbeda dalam diskusi-diskusi di Anggoro Kasihan.
Pertanyaannya bukan lagi: mengapa penghayat diperlakukan tidak adil? Melainkan: apa yang bisa diberikan oleh para penghayat kepada masyarakat yang lebih luas? Perubahan sudut pandang ini tidak selalu mudah diterima. Namun bagi Dedy, justru di situlah peran penting forum seperti Anggoro Kasihan.
Namun perlahan, lingkaran itu mulai tumbuh kembali. Beberapa anak muda mulai datang. Mahasiswa dari berbagai kampus ikut menyimak diskusi. Komunitas penghayat generasi baru juga mulai terlibat dalam percakapan yang berlangsung di pendopo joglo tersebut. Sedikit demi sedikit, Anggoro Kasihan menemukan napasnya kembali.
Pada akhirnya, perjalanan Dedy kembali ke Anggoro Kasihan membawanya pada satu kesadaran yang cukup sederhana. Ia menyadari bahwa yang selama ini ia cari sebenarnya bukan sekadar guru di luar dirinya. Dalam tradisi Jawa, ada konsep yang dikenal sebagai Guru Sejati, cahaya budi yang diyakini ada di dalam diri setiap manusia. Guru itu tidak selalu berbicara secara langsung. Kadang jawabannya datang melalui pengalaman hidup, melalui pertemuan dengan orang lain, atau melalui peristiwa-peristiwa kecil yang terjadi sehari-hari.
Seseorang bisa saja bertanya sesuatu dalam hatinya hari ini, tetapi jawabannya baru muncul esok hari dalam bentuk yang tidak terduga. Bagi Dedy, pengalaman kembali ke Joglo Srondol adalah salah satu jawaban semacam itu. Ia tidak lagi melihat Anggoro Kasihan hanya sebagai forum diskusi atau tempat belajar. Tempat itu telah berubah menjadi sesuatu yang lebih personal baginya. Sebuah rumah.
Rumah yang mempertemukannya kembali dengan orang-orang yang memiliki pencarian yang sama. Rumah tempat ia bisa berbagi pemikiran, tenaga, dan waktu. Di sana tidak ada guru yang berdiri di depan kelas, dan tidak ada murid yang hanya mendengar. Semua orang duduk dalam lingkaran yang sama, belajar dari pengalaman satu sama lain. Dan mungkin, seperti yang ia yakini, pertemuan itu bukanlah kebetulan semata. Dalam istilah Jawa, ia menyebutnya sebagai ngelumpukke balung pisah (mengumpulkan kembali tulang-tulang yang pernah terpisah). Seperti menyusun kembali potongan-potongan puzzle yang lama tercecer, hingga perlahan membentuk sebuah gambar yang utuh.
Menemukan Makna Sejati di Tengah Perbedaan
Di antara orang-orang yang duduk melingkar di pendopo Joglo Srondol malam itu, ada Wildhan. Ia adalah seorang penghayat dari paguyuban Budi Daya, Jawa Barat, sekaligus anggota Gema Pakti Semarang.
Wildhan datang seperti peserta lain. Duduk di kursi, sesekali menyimak percakapan, sesekali ikut menanggapi pembahasan yang bergulir. Orang-orang berbicara bergantian tentang berbagai hal: spiritualitas, kehidupan sehari-hari, hingga pengalaman pribadi dalam menjalani kepenghayatan.
Di sela percakapan itulah Wildhan mulai bercerita tentang perjalanan hidupnya. Bagi sebagian orang yang hadir malam itu, Wildhan bukan sosok baru. Ia cukup sering terlibat dalam berbagai kegiatan Anggoro Kasih. Namun, perjalanan yang membawanya sampai ke Joglo Srondol ternyata tidak sesederhana yang terlihat.
Bermula dari beberapa tahun ke belakang, saat ia mendapat informasi tentang program studi Pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Untag, Semarang. Sebuah program yang masih sangat baru. Informasi itu ia peroleh dari jaringan organisasi pemuda penghayat, Gema Pakti, tempat ia berjejaring dengan banyak pemuda penghayat dari berbagai daerah.
Program tersebut menawarkan beasiswa melalui jalur LPDP. Wildhan mencoba mendaftar. Tidak lama kemudian ia mendapat kabar bahwa dirinya diterima sebagai salah satu penerima beasiswa angkatan pertama. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk berhijrah dari Bandung ke Semarang untuk berkuliah.
Sebelum perkuliahan dimulai, para penerima beasiswa dibuatkan sebuah grup komunikasi. Grup itu menjadi ruang pertama bagi mereka untuk saling mengenal. Di sana mereka saling bertukar nomor telepon, berdiskusi tentang perkuliahan yang akan mereka jalani, dan perlahan membangun hubungan pertemanan.
Melalui percakapan-percakapan di grup itu pula, Wildhan mulai menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. Selama ini ia mengira penghayat kepercayaan hanya ada di lingkungan yang ia kenal, atau paling jauh di wilayah Jawa Barat. Namun, melalui percakapan dengan mahasiswa lain, ia baru memahami bahwa komunitas penghayat ternyata tersebar di banyak daerah di Indonesia. Bahkan sebagian dari mereka berasal dari luar Pulau Jawa.
Di Semarang, Wildhan mulai bertemu dengan penghayat dari berbagai latar belakang. Setiap orang membawa tradisi yang berbeda. Ia sendiri tumbuh dalam lingkungan penghayat Sunda yang masih mempraktikkan berbagai simbol ritual. Dalam keluarga Wildhan, penggunaan kemenyan dalam praktik spiritual merupakan hal yang biasa. Namun, ia segera menyadari bahwa tidak semua penghayat menjalankan praktik yang sama. Beberapa menggunakan dupa. Sebagian lainnya bahkan tidak menggunakan media apa pun dalam doa atau meditasi.
Perbedaan itu sempat membuatnya berpikir ulang tentang bagaimana ia selama ini memahami kepenghayatan. Semakin banyak ia bertemu dengan orang dari berbagai paguyuban, semakin jelas pula bahwa perbedaan tersebut sebenarnya hanya terletak pada cara. Nilai yang mendasarinya tetap sama: usaha manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan menjaga keseimbangan dengan alam semesta.
Dalam perjalanan itulah ia juga semakin dekat dengan seseorang yang kemudian menjadi bagian dari hidupnya, Fitri. Perempuan itu berasal dari latar belakang penghayat yang berbeda dengannya. Yakni paguyuban Noormanto dari Jawa Tengah, yang selain berfokus pada pelestarian nilai budi luhur, tradisi spiritual, juga termasuk mempraktikkan pengobatan tradisional.
Namun, bagi Wildhan, perbedaan tersebut justru menjadi ruang belajar baru. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka kadang menemukan cara-cara praktik spiritual yang tidak sepenuhnya sama. Tetapi setelah banyak berbincang, keduanya menyadari bahwa tujuan dari semua praktik itu sebenarnya tidak pernah berbeda.
Wildhan pertama kali tahu Anggoro Kasih dari Sumarwanto, dosennya di kampus. Dalam perkuliahan tentang spiritualitas kepercayaan, ia sering menyebut Anggoro Kasih sebagai ruang diskusi yang mempertemukan berbagai komunitas penghayat. Suatu hari para mahasiswa diajak mengikuti sarasehan di Joglo Srondol.
Wildhan datang dengan rasa penasaran. Namun, pada pertemuan-pertemuan awal, ia merasa cukup canggung. Banyak diskusi berlangsung menggunakan bahasa Jawa, sementara ia berasal dari Jawa Barat. Ia lebih sering diam dan mendengarkan. Tetapi justru dari posisi itu ia mulai memahami sesuatu yang penting.
Semakin lama mengikuti diskusi, ia menyadari bahwa nilai-nilai yang dibicarakan di Anggoro Kasih sebenarnya tidak jauh berbeda dengan yang ia kenal di lingkungannya sendiri. Yang berbeda hanyalah bahasa dan cara penyampaiannya. Kesadaran itu perlahan mengubah cara pandangnya. Ia mulai melihat bahwa kepenghayatan tidak harus selalu dipahami dalam batas-batas tradisi daerah. Nilai-nilainya bisa dijelaskan secara lebih universal.
Bagi Wildhan, pemahaman itu sangat penting. Selain sebagai mahasiswa, ia juga menjalankan peran sebagai penyuluh kepercayaan. Tugas penyuluh tidak hanya mendampingi siswa penghayat di sekolah, tetapi juga memberikan pemahaman kepada masyarakat umum tentang kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Untuk menjalankan tugas tersebut, seseorang harus mampu menjelaskan nilai-nilai kepenghayatan dengan bahasa yang dapat dipahami oleh siapa saja. Dan di Anggoro Kasih, ia menemukan ruang untuk belajar melakukan hal itu.
Ia percaya bahwa masa depan kepenghayatan tidak bisa hanya bergantung pada identitas paguyuban. Nilai-nilai yang hidup di dalamnya perlu dibicarakan secara lebih luas dan secara universal. Dan mungkin, seperti yang ia rasakan sendiri, perjalanan menuju pemahaman itu tidak selalu dimulai dari tempat yang sama. Kadang ia justru dimulai dari sebuah perjalanan jauh. Seperti dari Bandung menuju Semarang, yang pada akhirnya membawa seseorang duduk di sebuah pendopo sederhana di Srondol, mendengarkan percakapan tentang makna hidup.
Percakapan di pendopo malam itu akhirnya kembali menyatu dengan diskusi yang sedang berlangsung. Beberapa peserta lain mulai menyampaikan pandangan mereka, menanggapi topik yang sebelumnya dibicarakan. Wildhan kembali duduk menyimak.
*****
Pukul 23:03 WIB, diskusi di Rumah Budaya Joglo mulai berakhir. Beberapa orang tampak masih berbincang santai di sudut pendopo. Sementara yang lain mulai berdiri, bersiap meninggalkan tempat itu satu per satu. Udara terasa lebih dingin setelah hujan. Tapi malam itu meninggalkan kesan yang mendalam. Terbaca bahwa Anggoro Kasih bukan hanya sekadar forum diskusi. Ia adalah ruang di mana perjalanan spiritual, pengalaman hidup, dan pencarian makna bertemu dalam satu lingkaran percakapan yang sederhana. Mungkin, dalam kesederhanaan itulah AKS akan terus bertahan.
