Kisah ditulis oleh Tobo Titu dan Anna Soetomo
Pada Tahun 2021, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mengeluarkan peraturan No.418/E/0/2021 tentang Pembukaan Program Studi Pendidikan Kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Program Studi ini bertujuan menyiapkan tenaga pendidik untuk layanan Pendidikan Kepercayaan. Dalam implementasinya, program studi ini dilaksanakan di Universitas Tujuhbelas Agustus 1945 Semarang. Sampai dengan tahun ajaran 2025/2026, program studi ini telah melayani lebih dari 100 peserta didik dari beragam latar belakang komunitas penghayat di Indonesia.
Bersiap untuk Kuliah
Bagi Tobo Titu, yang biasa dipanggil Nona, meninggalkan rumah dan orang tua di Pulau Sabu terasa berat, tapi keinginan untuk membangun kampung membawanya ke Semarang untuk menjadi mahasiswa di Universitas Tujuhbelas Agustus 1945 Semarang.
Ketika di Kelas 12, Nona mendapatkan informasi dari Jeck Lawa Rohi, penghayat Marapu, kalau di Semarang ada Program Studi Pendidikan Kepercayaan di Fakultas Bahasa dan Budaya. Ia tidak sabar mau lulus sekolah, dan ingin sekali kuliah. Saat pengumuman kelulusan diterima, ia sangat berbahagia dan bersemangat untuk mendaftar kuliah. Dibantu oleh Adi, pendamping yang ditunjuk oleh organisasi penghayat, Nona menyiapkan semua persyaratan berupa curriculum vitae dan dokumen lain untuk mendaftar Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dan melakukan wawancara. Ketika dinyatakan tidak lulus, ia menangis kecewa, harapan untuk bisa kuliah pupus sudah. Bapak dan mama menguatkan.
Selang beberapa pekan, ia mendapatkan informasi bahwa ada beasiswa reguler yang ditanggung oleh MLKI (Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indoensia). Ia melengkapi berkas persyaratan dan kembali mendaftar dengan harapan baru. Ketika Bulan Oktober 2024 ia dimasukkan dalam grup whatsapp kampus, ia masih tidak percaya bahwa ia benar-benar akan kuliah. “Ini benar atau tidak ya..”, pikirnya. Nona sempat ingin mengundurkan diri karena sudah bekerja di Seba sebagai ART, tetapi tidak diperbolehkan karena sudah terdaftar. Ia bingung, satu sisi senang bisa kuliah, di sisi lain belum rela jauh dari orang tua.
Mulanya bapak dan mama khawatir karena Nona akan merantau jauh sendirian. Antara senang dan ingin mendukung anaknya terus belajar, namun seperti yang dirasakan Nona, bapak dan mama merasa berat jika Nona harus jauh. Beruntung ada saudara sepupu Nona, Jefri, yang juga mendaftar dan lolos. Bapak dan mama akhirnya bisa lebih tenang.
Dua bulan pertama perkuliahan dilakukan secara daring. Baru pada Bulan Januari 2025 ada informasi dari kampus bahwa akan ada Semester Pendek pada tanggal 16 sampai 25, yang dilakukan secara luring. Pada saat itu keluarga belum siap secara ekonomi, baik untuk membayar semester pendek maupun untuk biaya keberangkatan ke Semarang. Keluarga besar berkumpul, dan bersepakat untuk urunan membiayai keberangkatan Nona ke Semarang. “Ah, sedih banget kalau ingat…”, katanya.
Dari Sabu Raijua ke Semarang
Tanggal 10 Januari 2025, 3 hari sebelum berangkat, Nona demam tinggi. Semua keluarga bingung sekali karena bagaimana bisa berangkat dalam kondisi sakit. Melepas dalam kondisi sehat saja berat, apalagi jika sakit. Mama ajak Nona ke puskesmas, dijaganya Nona, disiapkan nasi untuk dimakan, dan obat untuk diminum. “Mama selalu disamping untuk kasi obat dan urut.. Pokoknya saat itu saya manja sekali”, kenangnya. Nona juga ingin lekas sembuh, diminumnya obat melebihi peraturan, “4 kali sehari”, katanya.

Senin 13 Januari 2025 kondisi Nona sedikit membaik. Seharian itu semua orang sibuk karena malamnya Nona akan berangkat. Dalam kondisi masih pusing, Nona pergi ke Seba untuk mengurus buku rekening. Perjalanan dari rumahnya di Parajara ke Seba memakan waktu satu jam. Nona tidak punya buku rekening karena sebelumnya tidak pernah berfikir akan dapat kuliah. Selama mengurus di bank Nona resah, antrian panjang dan ia takut waktunya tidak cukup. Pukul setengah tiga sore urusan buku rekening selesai. Dalam perjalanan pulang, Nona mulai merasa sangat sedih.
Pakaian disiapkan. Sambil menunggu malam. “Kami sekeluarga duduk untuk makan bersama sebagai makan perpisahan sementara. Di situ air mata mengalir terus karena belum siap untuk jauh dari rumah”, katanya. Setelah makan malam dan doa bersama Nona pamit untuk berangkat. Semua menangis. Nona menatap mamanya yang tampaknya masih belum rela. “Mama, saya pasti akan pulang. Mama jaga kesehatan ya..” bisiknya pada mama.
Nona diantar bapak ke Pelabuhan Seba dengan motor. Sepanjang jalan air matanya berurai. Setelah pamit pada bapak, ia masuk dalam kapal bersama Jefri. Usianya delapan belas, dan ini kali pertama ia meninggalkan pulaunya. Kapal berangkat pada pukul 9 malam dan sandar di Pelabuhan Bolok Kupang pada pukul 10 pagi di tanggal 14 Januari 2025. Turun dari kapal, Nona dan Jefri dijemput kerabat untuk beristirahat sebentar, bercerita, dan makan. Pukul 1 siang mereka berangkat ke Bandara El Tari Kupang. Setelah check in tiket, mereka pergi ke ruang tunggu keberangkatan. Mereka merasa bingung karena belum pernah naik pesawat. Pukul 14.55 pesawat tiba dan penumpang diijinkan masuk setelah petugas memeriksa tiket.
Selama di pesawat Nona berusaha istirahat rapi tidak bisa. Ia takut terjadi apa-apa sehingga ia berdoa sambil menangis agar semua baik-baik saja. Ia merasa tenang ketika pesawat sudah mendarat, “Tuhan baik kami selamat sampai di Surabaya tanpa kendala”. Saking senangnya mereka lupa bahwa mereka punya koper yang harus diambil di bagasi. “Turun pesawat langsung keluar kasih tinggal koper di bagasi. Di situ malu banget. Terpaksa masuk kembali ke ruangan untuk ambil koper, baru keluar … Sumpah di situ malu sekali! Pokoknya nanti kalau saya pulang kampung tidak mau naik pesawat lagi”, katanya.
Dari Bandara Juanda Surabaya mereka keluar untuk makan, kemudian berangkat ke Semarang dengan travel pada pada pukul 7 malam. Selama di travel Nona masih memikirkan rumah. Perasaannya sebagai anak perantau membuat pikirannya sulit ditenangkan. Travel tiba di Semarang pada pukul 3.40 di Tanggal 15 Januari 2025, disambut teman-teman sesama mahasiswa yang rela tidak tidur menunggu kedatangan Nona dan Jefri. Segala perasaan campur aduk. Bahagia dan terharu. Dua ribu kilometer dari kampung halamannya, Nona punya keluarga baru.
Keluarga Baru
15 Januari 2025. Pukul 5 subuh Nona sudah merapikan kamar dan menyiapkan banyak hal untuk ke kampus. Jadi baru sampai Semarang langsung perkenalan. Perkuliahan semester pendek dimulai keesokan harinya selama seminggu. Nona tetap belum bisa berhenti memikirkan rumah. Ia menelpon mamanya setiap saat, dan mendengar suara mamanya rasanya ingin pulang. “Kangennya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata”, katanya. Nona mulai belajar bahwa adaptasi dengan lingkungan baru memang butuh waktu, dan ia bertekad menjadi anak yang mandiri. Masa-masa libur paska Semester Pendek digunakan untuk proses mengenali lingkungan.

Ketika masuk Semester 2, Nona bertemu dengan teman-teman lain dari berbagai wilayah di Indonesia dan penghayat kepercayaan dengan berbagai latar belakang suku dan kepercayaan. Di angkatannya, ada 28 mahasiswa yang terdiri dari penghayat Aliran Kebatinan Perdjalanan, penghayat Jawa Sejati, penghayat Jingitiu, penghayat Kaharingan, penghayat Kapribaden, penghayat Kawruh Jawa Jawata, penghayat Maneges, penghayat Mapurondo, penghayat Marapu, penghayat Parmalim, penghayat Paguyuban Budaya Bangsa, dan penghayat Sapta Darma.
Teman-teman Nona sering berbicara dengan berbagai bahasa daerah, meskipun di kelas menggunakan Bahasa Indonesia sebagai pengantar. Pada awalnya ada sedikit kecanggungan karena perbedaan logat, kebiasaan, dan cara komunikasi. Nona berusaha untuk terbuka, “Saya belajar bahwa setiap orang membawa budayanya masing-masing, dan itu indah. Prinsip saling menghormati yang saya pegang juga membuat saya lebih mudah diterima”, katanya. Kampus adalah keluarga baru. Selama di Semarang Nona juga mengikuti beberapa kegiatan bersama komunitas penghayat yang lain. Itu menjadi ruang untuk saling menguatkan sebagai sesama penghayat di perantauan.
Saat ini Nona akan masuk Semester 4, ia masih mendapat kesulitan, misalnya dalam menyesuaikan ritme perkuliahan dan tuntutan akademik. Ia coba atasi dengan mengatur waktu, berdiskusi dengan teman, serta berkonsultasi dengan dosen. Ia percaya bahwa ia harus tekun agar dapat berhasil. Bukan hanya berhasil menyelesaikan studi tepat waktu, tetapi juga bertumbuh secara intelektual, emosional, dan spiritual. Ia juga ingin agar ilmu yang diperoleh dapat diabdikan kepada masyarakat.
Di Semarang, katanya, budayanya lebih dinamis dibandingkan kehidupan di Sabu yang cenderung komunal dan sederhana. Nona berupaya bersikap terbuka sembari memegang teguh ajarannya. Sebagai mahasiswa di Universitas 17 Agustus 1945 Semarang, ia merasa ada tanggung jawab lebih karena dikenal sebagai penghayat Jingitiu. Ada rasa terbebani, tapi juga ada rasa bangga. “Ada momen ketika saya harus berbicara di depan umum tentang Jingitiu. Awalnya saya gugup, tetapi pengalaman itu membentuk rasa percaya diri. Sekarang saya punya keberanian untuk menyuarakan identitas saya secara terbuka … Saya ingin menunjukkan bahwa penghayat (Jingitiu) juga mampu berprestasi dan hidup berdampingan dengan siapa saja,” katanya.
Sekalipun ajarannya banyak dianut di Pulau Sabu, penghayat Jingitiu juga tinggal di wilayah lain untuk bekerja dan menuntut ilmu. Di Pulau Sabu, beberapa orang sepenuhnya memegang Jingitiu sebagai kepercayaannya, dan hidup berdampingan secara harmonis dengan masyarakat yang beragama.
Setaun berlalu, Nona belum pernah pulang ke kampung halaman. Ia sering tidak menyangka ia mampu melewati semuanya. Kerinduan diatasi dengan menelepon orang tua, mengingat pesan-pesan bapak dan mama, dan menguatkan diri lewat doa sesuai ajaran Jingitiu. Ia sadar bahwa rindu itu adalah tanda cinta, bukan kelemahan. Bagi Nona, keluarga, terutama orang tua, yang selalu memberikan doa dan motivasi adalah pendukungnya yang utama. Selain itu, teman-teman dan dosen juga menjadi bagian penting dalam perjalanan akademiknya di Semarang. “Panutan saya adalah orang tua dan para tetua adat di Sabu yang hidup sederhana namun penuh integritas. Mereka mengajarkan nilai tanggung jawab, keteguhan, dan kesetiaan pada ajaran leluhur”, katanya.
Jika lulus nanti, Nona ingin mengabdikan ilmu yang ia dapatkan untuk membangun sumber daya manusia di Sabu, terutama di Kampung Parajara, melalui pendidikan, pemberdayaan masyarakat, maupun pelestarian nilai-nilai budaya dan kepercayaan Jingitiu. Hal-hal tersebut adalah bagian dari apa yang ia pelajari di kampusnya. Ia berpesan, “Untuk teman-teman yang baru pertama kali merantau jauh dari orang tua, jangan pernah berpikir untuk tidak bisa apapun. Tantangannya hadapi dengan tenang. Saya yakin teman-teman pasti bisa”.