Sekolah Agama Leluhur IV: Menghidupkan Kembali Ajaran Leluhur tentang Ketahanan Pangan
Mohammad Isa Muslim
Sekolah Agama Leluhur (SAL) kembali diselenggarakan pada tanggal 21-23 Agustus 2026 di Sanggar Sri Tumuwuh, Seyegan, Kabupaten Sleman. Acara ini merupakan kolaborasi antara CRCS UGM, ICIR Rumah Bersama, Sanggar Sri Tumuwuh, dan MLKI DIY, dengan dukungan dari Direktorat Bina Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat (BKMA) Kementerian Kebudayaan RI.
Dengan mengusung tema “Memetri Bumi, Nggulawentah Generasi”, SAL angkatan IV menekankan penguatan kapasitas penghayat kepercayaan leluhur, khususnya di bidang ketahanan pangan. Kegiatan ini juga diisi dengan sesi yang variatif, meliputi diskusi interaktif, refleksi alam, praktik pengolahan hasil alam, hingga upacara ritual yang dilakukan oleh leluhur.
Memetri Bumi: Merawat Kesucian Alam dengan Menjaga Keseimbangan
Pada awal acara, peserta SAL belajar pengetahuan dasar tentang perilaku dan etika leluhur terhadap alam yang tercermin pada keseimbangan antara manusia dan ekosistem sekitarnya. Semua yang ada di Bumi, pada dasarnya, memiliki energi dan frekuensi masing-masing yang harus diselaraskan. Penyelarasan ini bertujuan untuk mencapai ketenangan batin.
“Bagi leluhur, tercapainya ketentangan batin tidak tergantung pada bagusnya rupa, banyaknya harta, maupun kecerdasan, melainkan terletak pada perilaku dan etika manusia terhadap sekitarnya,” jelas Agus Susilo, Ketua Sri Tumuwuh dan presidium MLKI Sleman.
Oleh karena itu, lanjutnya, melatih kepekaan empati dan mengolah perasaan dapat membantu manusia agar tidak terperosok ke dalam jurang keserakahan dan ketidakseimbangan antarmakhluk.
Agus melanjutkan bahwa leluhur kita percaya pada pembagian tugas dalam raga manusia (jagad alit). Di dalam jiwa ada yang berperan sebagai penggembala (angon) yang tidak punya hak mutlak dan kuasa penuh atas alam (jagad ageng).
Ketika manusia, hewan, tanah, dan tumbuhan mendapatkan hak hidupnya dengan baik, keseimbangan energi dan ketenangan batin akan tercapai. Leluhur kita menjaga prinsip ini tanpa mengharap kelebihan dari alam; “mangan opo sing ditandur, nandur opo sing dipangan”.
Di akhir sesi, Agus juga menekankan pentingnya siklus perputaran energi dalam menjaga keseimbangan. Dengan adanya proses menanam, merawat, memanen, hingga memasak, terdapat hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan sekitarnya, sehingga keseimbangan energi alami dapat terwujud. Di zaman modern, manusia kian terbiasa menikmati hasil alam tanpa memahami relasi antarmakhluk yang terjadi, sehingga manusia semakin menjauh dari alam dan lingkungan sekitarnya.
Di sesi selanjutnya, Wakil Ketua 1 Sanggar Sri Tumuwuh, Kukuh Tigo Manggala, menjelaskan bahwa salah satu cara leluhur untuk mengolah rasa adalah dengan tradisi Merti Bumai atau Sedekah Bumi. Tradisi ini merupakan perwujudan rasa syukur terhadap apa yang telah alam berikan kepada manusia sekaligus membersihkan dan menyucikan kembali lingkungan sekitar.
Kukuh melanjutkan bahwa ajaran ini terkandung dalam Serat Sasana Sunu tentang pentingnya menjaga tata krama dan nafsu serta senantiasa mengucapkan rasa syukur atas nikmat yang ada. Selain itu, tradisi Merti Bumi juga merupakan penerapan salah satu falsafah hidup dalam budaya Jawa yang berbunyi “Hamemayu Hayuning Bawana” yang berarti memperindah, memelihara, dan menjaga keselamatan serta keharmonisan alam.

Dalam tradisi Jawa, ada ritual “Among-among” untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Nyai Among, sosok keibuan, yang melambangkan welas asih dan ketulusan hati. Karena dari alam, manusia memperoleh segala hal untuk memenuhi kebutuhannya, layaknya seorang ibu yang selalu memenuhi kebutuhan anak-anaknya.
Oleh karena itu, setiap kali waktu panen, Sri Tumuwuh melaksanakan upacara sebagai ungkapan rasa syukur kepada Nyai Among atas semua yang diberikan alam kepada manusia sekaligus untuk melestarikan ritual yang diajarkan leluhur. Among-among tidak hanya dimaknai sebagai upaya permohonan hasil panen yang baik, melainkan juga sebagai latihan jiwa untuk menerima proses dan ketidakpastian hasil sebagai bagian dari kehidupan. Bagi leluhur, alam bukanlah komoditas yang hanya dinilai dari keuntungannya.
Nggulawentah Generasi: Alam yang Lestari untuk Generasi Selanjutnya
Setelah mendapatkan pengetahuan mengenai keeratan hubungan leluhur dengan alam, peserta SAL angkatan IV diajarkan untuk mengenali jenis-jenis tanaman yang dimanfaatkan leluhur sebagai penunjang kehidupan. Peserta diajak berkeliling area Sri Tumuwuh untuk melihat secara langsung proses “dialog” antara manusia dan alam melalui pertanian dan peternakan.
Kegiatan ini bertujuan untuk merefleksikan ajaran kepercayaan leluhur serta mendokumentasikan pengetahuan pangan leluhur yang terancam hilang. Di akhir sesi, peserta diajak untuk bermeditasi, merasakan setiap energi yang dipancarkan alam, sekaligus merenungi relasi antara manusia dan alam yang kian menjauh.
Sesi selanjutnya adalah praktik pengolahan hasil alam. Dalam kegiatan ini, peserta dibagi menjadi lima kelompok, yaitu seni tari, seni kriya, batik, minuman herbal, dan makanan. Peserta mendapatkan bimbingan dari pakar kebudayaan dan tradisi leluhur mengenai esensi dan keunggulan ajaran leluhur yang terdapat dalam kesenian maupun dalam pengolahan hasil bumi.

Selain itu, masing-masing kelompok juga mendiskusikan rencana kegiatan yang akan dilakukan setelah SAL berakhir agar pengetahuan leluhur yang telah mereka peroleh dapat disebarkan kepada masyarakat luas. Kemudian, masing-masing kelompok mempresentasikan hasil karya yang telah mereka buat serta rencana tahap selanjutnya di hadapan semua peserta agar dapat didiskusikan bersama.
Kemudian, acara ini ditutup dengan ritual “among-among” dan pembacaan tembang macapat sebagai ungkapan terima kasih kepada alam atas terlaksananya Sekolah Agama Leluhur angkatan IV. Pada ritual ini, dihidangkan beberapa makanan tradisional, seperti tumpeng, ingkung ayam jago, berbagai jenis pisang, dan jantung pisang.
Makanan yang dihidangkan ini memiliki makna filosofis masing-masing: bentuk tumpeng yang mengerucut melambangkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa; ingkung atau ayam jago utuh sebagai simbol pengikatan ego manusia; beragam jenis pisang, dari yang besar hingga yang kecil, dengan satu jantung pisang melambangkan bahwa keragaman jenis manusia memiliki jantung atau asal yang sama.
Sebagai penutup, Samsul Maarif, perwakilan ICIR Rumah Bersama, berharap hubungan alumni Sekolah Agama Leluhur IV tetap terjaga dan mereka mampu menjadi pionir dalam penyebaran ajaran leluhur yang semakin terancam di masyarakat. Samsul juga berharap SAL menjadi percontohan bagi kelompok penghayat kepercayaan leluhur di seluruh Nusantara dalam melestarikan ajaran leluhur mereka.
Mohammad Isa Muslim is a graduate student in the Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), Graduate School, Universitas Gadjah Mada