Forum Kamisan Daring 2026

Quo Vadis Prodi Pendidikan Kepercayaan Untag Semarang

Di tengah perjalanan panjang pendidikan kepercayaan di Indonesia, pertanyaan quo vadis kembali mengemuka: ke mana arah Program Studi Pendidikan Kepercayaan UNTAG Semarang akan melangkah?

Pertanyaan tersebut dibahas dalam Forum Kamisan Daring 6 Agustus 2026 untuk merumuskan arah dengan menimbang tantangan, strategi menarik minat mahasiswa, serta peran nyata di tengah masyarakat.

Selain itu, topik dalam forum ini juga menghimpun gagasan dan soslusi yang dapat menjadi bahan masukan bagi pemerintah dan para akademisi dari penghayat. Tujuannya tak lain agar pendidikan kepercayaan tidak hanya diakui, tetapi benar-benar hidup, berkembang, dan memberi dampak bagi masyarakat.

Wawan Wibisono, Kepal;a Pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa (PKTTYME) Untag Semarang berpendapat bahwa masa depan pendidikan kepercayaan tidak cukup ditopang oleh pengakuan hukum semata. Keberlanjutannya perlu diwujudkan lewat layanan pendidikan yang layak, hidup, dan berdampak.

Kehadiran Program Studi Pendidikan Kepercayaan menjadi harapan penting bagi penghayat. Harapan tersebut tidak hanya tersebut tidak hanya sebagai bentuk pengakuan, tetapi juga sumber ruang akademik untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia. Capaian yang ada saat ini merupakan hasil kerja kolektif, sehingga kolaborasi antara akademisi, komunitas, dan pemangku kepentingan perlu terus diperkuat, termasuk dalam opitmalisasi proses pembelajaran di kelas.

Harapan tersebut tidak hanya tersebut tidak hanya sebagai bentuk pengakuan, tetapi juga sumber ruang akademik untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia.

Di sisi lain, sejumlah tantangan seperti penerapan sistem pembelajaran hybrid, kebutuhan akan pengakuan dan sertifikasi bagi penyuluh sebagai pendidik, serta keterbatasan akses bagi mahasiswa. Tantangan itu menunjukkan bahwa pengembangan prodi masih membutuhkan dukungan kebijakan dan skema pendanaan yang inklusif.

Untuk memperluas jangkauan dan relevansi, tutur Wawan, kolaborasi dengan komunitas menjadi kunci, salah satunya lewat pelaksanaan praktik pengalaman lapangan di kantong-kantong penghayat. Dengan demikian, pendidikan kepercayaan tidak berhenti di ruang akademik, tetapi hadir secara nyata di tengah masyarakat. Keberhasilan upaya ini sangat bergantung pada sinergi berbagai pihak agar pendidikan kepercayaan  benar-benar tumbuh, berkembang, dan memberi dampak luas.

Sebagai bagian dari Prodi PKTTYME, Sri Setiyani membagikan pengalamannya. Perjalanannya sebagai lulusan PKTTYME Untag Semarang berangkat dari keinginan sejak kecil untuk menjadi guru. Dia menapaki jalur pendidikan dengan tekad untuk mengajar sekaligus menjaga dan melestarikan ajaran kepercayaan dalam ruang pendidikan formal.

Bagi Sri, pengalaman semasa kuliah adalah bekal penting menghadapi realitas dunia kerja sebagai guru, interaksi dengan keragaman, dan keterlibatan dengan kegiatan organisasi. Adaptasi d terhadap lingkugan kerja, keberagaman karakter peserta didik, dan penyusunan perangkat pembelajaran menjadi proses yang terus ia jalani.

Di sisi lain, tantangan terbesar bagi Sri justru datang dari masih terbatasnya pemahaman masyarakat terhadap Pendidikan Kepercayaan. Sehingga, upaya sosialisasi menjadi bagian dari tanggung jawab yang tidak terpisahkan.

Sri melihat adanya peluang besar. Pendidikan Kepercayaan punya ruang strategis dalam pembentukan karakter peserta didik, terutama dalam menanamkan nilai-nilai moral, toleransi, dan identitas. Dengan dukungan kompetensi pedagogik, penguasaan teknologi, dan kemampuan komunikasi serta kolaborasi yang didapatkan dari perkuliahan, ia berupaya mengembangkan pembelajaran yang kreatif dan relevan.

Peran guru, dalam hal ini, tidak hanya sebagai penyampai materi. Guru harus menjadi teladan dan penggerak nilai di masyarakat.

Ke depannya, Sri memandang kepetningan penguatan jejaring alumni dan kejelasan araah pengembangan karier Pendidikan Kepercayaan. Tidak terbatas sebagai pengguna ilmu, alumni diharapkan menjadi kontributor aktif dalam pengembangan prodi dan promosi kepada masyarakat. Jika dilakukan sungguh-sungguh, Sri yakin bahwa setiap langkah akan membentuk masa depan pendidikan kepercayaan yang lebih kuat dan bermakna.

Tidak terbatas sebagai pengguna ilmu, alumni diharapkan menjadi kontributor aktif dalam pengembangan prodi dan promosi kepada masyarakat.

Andri Hernandi, Presedium MLKI Bidang Pendidikan, bahwa pengalaman belajar di Prodi Pendidikan Kepercayaan sejatinya adalah proses mendalami keindonesiaan dan keragaman moralitas. Mahasiswa tidak hanya mengenal satu ajaran, tetapi berjumpa dengan beragam tradisi kepercayaan seperti Sapta Darma, Kapribaden, Parmalim, hingga Marpu.

Dari situ, menurutnya, tantangan sekaligus kekayaan akan muncul: bagaimana menghadapi perbedaan yang kadang mengguncang pemahaman awal.

Andri melihat bahwa orientasi lulusan tidak seharusnya dibatasi untuk menjadi pekerja. Pengalaman dan pengamatannya merefleksikan bahwa pendidikan seharusnya mendorong kemandirian dan kemampuan menciptakan peluang, termasuk membuka lapangan kerja. Dalam hal ini, ia menilai Prodi Pendidikan Kepercayaan telah menunjukkan langkah adaptif lewat berbagai strategi, seperti pembelajaran hybrid, biaya lebih terjangkau, serta pengakuan pengalaman lewat skema ekivalensi bagi para penyuluh.

Selain itu, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan membuka peluang baru untuk menyebarluaskan nilai kepercayaan secara lebih luas dan kreatif.

Pengalaman belajar di Prodi Pendidikan Kepercayaan sejatinya adalah proses mendalami keindonesiaan dan keragaman moralitas.

Pada akhrinya, Andri menegaskan pentignya rasa memiliki terhadap prodi ini. Program Studi Pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah milik bersama yang harus dibangun dan dijaga secara kolektif. Kesempatan yang terbuka sangat luas, baik untuk pendidik, penggerak budaya, maupun pelaku inovasi di bidang digital.

Meski menjadi pionir bukanlah hal yang mudah, Andri meyakini bahwa dengan komitmen bersama, prodi ini dapat harus berkembang dan memberi dampak yang lebih besar, bahkan hingga tingkat yang lebih luas.

Dalam kajian tentang pendidikan multikulturalisme, James A. Banks (2008) berargumen bahwa pendidikan harus mampu merefleksikan dan merespons keragaman budaya dalam masyarakat. Banks mengemukakan lima dimensi utama: content integration, knowledge construction process, prejudice reduction, equity pedagogy, dan empowering school culture.

Dalam konteksn Program Studi Pendidikan Kepercayaan, kelima dimensi itu tampak nyata, terutama pada aspek integrasi konten. Mahasiswa tidak hanya belajar satu sistem kepercayaan, tetapi juga kelompok kepercayaan lainnya. Hal ini sesuai dengan apa yang Andri tekankan bahwa belajar di prodi ini pada dasarnya adalah belajar keindonesiaan.

Proses pembelajaran di prodi ini juga mencerminkan dimensi konstruksi pengetahuan dan reduksi praduga. Mahasiswa sering mengalami “gejolak” ketika berhadapan dengan perbedaan ajaran. Namun, dengan proses tersebut, mereka justru membangun pemahaman yang lebih inklusif.

Pengalaman Sri Setiyani menunjukkan bahwa interaksi lintas kepercayaan adalah untuk memperluas wawasan sekaligus menumbuhkan sikap toleran dan kemampuan mengelola perbedaan. Dalam perspektif Banks, hal ini merupakan inti dari pendidikan multikultural, yakni membentuk individu yang mampu berpikir kritis terhadap pengetahuan dan menghargai keberagaman (Banks, 2015).

Dengan cara ini, prodi mengajarkan nilai multikulturan dan berusaha mewujudkannya dalam praktik kelembagaan inklusif. Dengan demikian, PKTTYME dapat dipahami sebagai praktik konkret pendidikan multukultural di Indonesia. Hal ini berarti bahwa sebuah ruang tidak hanya menstransmisikan pengetahuan tetapi juga membentuk kesadaran kolektif tentang pentingnya hidup dalam keberagaman secara adil dan setara.

Referensi:

Banks, J. A. (2008). An Introduction to Multicultural Education. Boston: Pearson.

Banks, J. A. (2015). Cultural Diversity and Education. New York: Routledge.

Kontributor: Etika Filosofia

Editor: Afkar Aristoteles M

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button