ArtikelCerita Penghayat

Rere: Belajar dari Perbedaan, Menjaga Nilai Berharga Kepercayaan

Bagi Rere, Penghayat identik dengan dengan budi pekerti. Namun, pengalaman masa kecil membuatnya sadar bahwa budi pekerti yang bersumber dari kepercayaan dan kebudayaan berpotensi hilang jika tidak ada yang melestarikan. Menjadi mahasiswa Program Studi Pendidikan Kepercayaan terhadap Tuhan YME di Untag Semarang adalah langkah awal untuk menjadi pelestari tradisi. Mari berkenalan dengan Redhita Setianuari dari Paguyuban Kawruh Jawa-Jawata (PJJ). Berikut wawancara Rumah Bersama dengan Rere.

Re, ceritain dong masa kecilnya gimana?

Sejak kecil, mama cukup protektif. Saya tidak langsung sekolah di lingkungan desa karena mama khawatir dengan pergaulan yang ada. Sejak TK, saya tidak disekolahkan di desa kami. Ditambah lagi, Mama saat itu sedang sibuk-sibuknya bekerja, makanya saya disekolahkan di tempat yang dekat dengan dia.

Nah, sejak kecil kan saya diajarkan menggunakan bahasa Jawa halus. Tapi, ketika masuk SD, saya kaget. Saat berbicara dengan teman menggunakan bahasa Jawa halus, mereka justru merasa seperti dihina, bukan dihormati. Alasannya karena mereka tidak bisa berbahasa Jawa halus, tapi bisanya pakai ngoko (bahasa Jawa kasar). Bahkan mereka juga menggunakan bahasa ngoko kepada guru. Dari situ saya mulai menyadari adanya perbedaan budaya. Lingkungan saya ternyata tidak terbiasa dengan penggunaan bahasa Jawa.

Pengalaman itu cukup membekas. Saya melihat bahwa nilai-nilai budaya yang diajarkan oleh mama di rumah, berbeda dengan realitas di luar. Seiring waktu, saya juga melihat di zaman sekarang semakin banyak anak-anak yang tidak lagi mengenal bahasa Jawa halus. Mereka lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia, tapi masalahnya, perlahan kehilangan kedekatan dengan budayanya sendiri.

Itu alasan kenapa kuliah di Untag juga?

Iya. Saya berpikir bahwa Penghayat Kepercayaan itu sangat erat dengan nilai budi pekerti. Dari pengalaman masa kecil saya sampai sekarang, ada rasa prihatin melihat anak-anak semakin ke sini semakin kehilangan budaya (bahasa)nya. Nah, dari situlah saya mendaftarkan diri. Sebab, saya ingin ikut andil semisal nanti jadi guru, supaya bisa mengajari anak-anak. Saya melihat, prodi Kepercayaan ini bisa jadi salah satu tempat belajar dan membuat saya nanti bisa mengajar.

Ohya Re, dulu waktu sekolah ambil pelajaran agama apa?

Dari SD sampai SMA, saya mengikuti pelajaran Pendidikan Agama Islam. Waktu itu belum ada penyuluh untuk Kepercayaan, jadi saya mengikuti yang tersedia di sekolah. Guru-guru saya tau kalau saya Penghayat karena mama saya menyampaikan ke sekolah.

Waktu SD memang ada praktik salat. Tapi saya punya pengalaman yang cukup berkesan saat itu. Guru Pendidikan Agama Islam, memberi saya tugas praktik untuk bersemedi dan berdoa. Mungkin, beliau sudah berkomunikasi dengan om saya. Sehingga, saat teman-teman melakukan praktik salat, saya praktiknya bersemedi dan berdoanya dengan diucapkan, tidak di dalam hati.

Di SMP dan SMA, saya diberi pilihan untuk ikut atau tidak dalam praktik keagamaan. Kala itu, saya memilih untuk tidak ikut, dan guru-guru cukup menghargai keputusan itu. Untuk penilaian akademik, selain praktik kan ada sikap (attitude), sehingga nilai saya lumayan sih, sembilan. Terlebih lagi, guru Pendidikan Agama Islam di SMA saya kala itu sangat toleran kepada saya, utamanya saat membahas hal-hal yang berkaitan dengan agama Islam. Ibu Guru ketika itu selalu izin dulu kepada saya. Lalu, semisal ada praktik-praktik agama, saya selalu dikasih kesempatan untuk ikut atau tidak. Tapi memang, saat itu saya memilih tidak ikut, takutnya salah kalau ikut.

 

Siswi Penghayat Kepercayaan
Rere mengenakan hijab sebagai seragam sekolah

Rere pernah mengalami peristiwa intoleransi nggak di sekolah?

Sejauh ini tidak. Teman-teman justru lebih banyak penasaran dan bertanya tentang keyakinan saya. Sayangnya, saat SD dan SMP saya masih kesulitan menjelaskan, karena saya sendiri belum sepenuhnya memahami tentang keyakinan saya. Jadi bingung menjelaskannya. Tapi ketika SMA, teman-teman sudah lebih bisa mengerti.

Nah soal kepercayaan saya, mama sendiri tidak pernah menjelaskan secara khusus. Semuanya berjalan mengalir. Mama dan om tidak pernah membatasi saya untuk berkeyakinan. Mereka tidak memaksa saya harus memilih keyakinan atau agama apa.  Saya diberi kebebasan. Semisal mau dan nyaman mengikuti agama Islam atau Kristen, tidak masalah, yang penting tidak kehilangan nilai budaya sebagai orang Jawa.

Rere kan ingin menjadi guru penghayat, apakah jumlah penghayat dari PJJ ada banyak?

Kalau di Pekalongan saja tidak banyak, karena hanya keluarga. Justru kelompok PJJ yang paling banyak ada di Batang. Tapi sekarang para Penghayat PJJ sudah banyak yang menjadi Muslim, karena ada satu dari mereka yang terkena diskriminasi.

Sebagai penghayat, pernah nggak Re, merasa berbeda dibanding teman-teman lain?

Jujur, pernah merasa berbeda. Terutama waktu kecil. Soalnya, mama tidak pernah menjelaskan kepada saya tentang keyakinan ini (PJJ). Sementara di sekolah, banyak teman-teman (Muslim) saya yang menyinggung perihal agama. Misalnya seperti cerita saat mereka mengaji. Saya bahkan sampai ikut mengaji saat kelas 1 SD karena melihat teman-teman saya melakukannya. Saya ingin punya pengalaman yang sama, ingin bisa bercerita seperti mereka. Baru seiring waktu saya memahami bahwa saya memang berbeda dari teman-teman saya, dan itu tidak apa-apa. Bukan sesuatu hal yang harus dihindari, karena dari sanalah saya juga belajar.

Re, cerita dong awalnya ke Untag Semarang gimana?

Perjalanannya cukup tidak terduga. Istilahnya dar-der-dor lah. Awalnya saya diterima di UIN di Pekalongan melalui jalur SNBP, di prodi baru, jurusan Bisnis Digital. Jadi prodi itu memang boleh untuk yang non-Muslim. Setelah mengisi input data administrasi di UIN, ternyata saya dapat UKT grade ketujuh, tingkat UKT yang paling besar. Sekitar 6 juta rupiah biayanya. Jumlah yang cukup berat karena saat itu, ekonomi mama sedang menurun.

Lalu, di sela waktu tersebut saya dikabari ada program studi Kepercayaan di Untag, Semarang, yang sudah berjalan selama beberapa tahun. Oleh om diberi tahu kalau ada program beasiswa di sana. Nah, disuruh daftarlah saya di Untag, meski agak gamang karena saya takut sekolah saya terkena blacklist karena saya tidak meneruskan SNBP.

Tapi, oleh om saya diyakinkan untuk memilih Prodi Kepercayaan. Sebab menurutnya, sekolah SMA saya berjarak sekitar 1 km dari UIN Pekalongan. Secara logika, alumni dari SMA saya akan banyak mendaftar ke UIN Pekalongan. Sehingga tidak mungkin di-blacklist oleh kampus.

Atas dasar itu, saya mendaftar ke Untag. Eh, ternyata persyaratan mendaftarnya banyak sekali, ditambah ada keharusan menulis esai, membuat saya makin pusing. Tidak ada yang bisa membantu saya kala itu, mama sudah tua, usianya lebih dari 50 tahun. Teman juga tidak ada. Lalu saya lihat lagi perihal esai, ternyata esainya boleh menceritakan diri sendiri. Sehingga akhirnya, saya pun menceritakan pengalaman saya sendiri. Tapi ternyata, saya tidak diterima.

Lho, sempat nggak diterima?

Iya. Saya sempat down, menangis terus tiga hari. Sempat menyalahkan kepada keluarga juga, karena saya sudah keluar dari UIN Pekalongan untuk itu. Sampai Mama mencoba menenangkan dan menyarankan untuk daftar bekerja dulu, tahun depan mendaftar kuliah lagi. Nah, saat saya sudah siap mau bekerja, dapatlah panggilan bahwa saya diterima beasiswa tambahan. Saya tidak menyangka dan bahagia, sampai menangis. Mama juga. Akhirnya saya diterima di Untag prodi Kepercayaan dengan beasiswa.

Bagaimana pengalaman pertama menuju Semarang?

Saya berangkat naik motor dari Pekalongan bersama teman, Keanu namanya, dia juga anak PJJ yang diterima kuliah di Untag jurusan Kepercayaan sama seperti saya. Bayangkan saja, kami anak kabupaten tiba-tiba berpindah ke pantura. Sekitar tiga jam perjalanan. Awalnya sangat senang karena akhirnya bisa kuliah. Sepanjang perjalanan, saya terus berpikir, “Benarkah ini terjadi? Saya benar-benar akan kuliah di Semarang, dengan beasiswa?” Rasanya seperti mimpi. Tapi di sisi lain juga ada rasa berat karena harus berpisah dengan mama. Ditambah, saya juga takut karena pengalaman pertama jauh dari orang rumah.

Re, gimana rasanya kuliah di Prodi Kepercayaan?

Yang paling membahagiakan itu ketemu teman-teman. Rasanya berbeda sekali dibanding waktu SD dulu. Kalau dulu pertemanan terasa biasa saja, sekarang lebih terasa seperti keluarga. Misalnya kalau ada satu teman sakit, pasti kami jenguk bersama-sama. Nah kalau yang terasa berat, tugas-tugas kuliahnya,  terutama waktu semester tiga. Di awal memang terasa santai, tapi mendekati UAS tiba-tiba dor-dor-dor, tugas datang bertubi-tubi, makalah, presentasi, semuanya sekaligus. Tapi rasanya bangga sekali. Sekarang saya jadi lebih memahami apa itu Kepercayaan. Apalagi setelah ada praktik seperti meditasi di kampus, membuat saya jadi semakin tertarik dengan sisi spiritualnya.

Bagaimana pengalaman bertemu dengan teman-teman barumu?

Iya, sempat kaget, tapi juga tertarik. Soalnya dari kecil saya tinggal di Jawa terus. Jadi dulu sering penasaran, kehidupan di luar Jawa seperti apa, ya? Di kampus, saya jadi sering bertanya ke teman-teman dari Timur atau Sumatera, ada apa saja di sana? Saya sering bertanya tentang budaya mereka, kehidupan di sana, bahkan hal-hal sederhana. Kami sering diskusi. Kadang yang membuat kaget itu bahasa. Saya sering bingung mereka sedang membicarakan apa, tapi tetap ingin ikut bergabung karena terlihat seru meski kadang memang tidak nyambung.

Semua teman membaur? Atau masih berkumpul sesama daerah?

Teman-teman memang masih berkumpul sesama daerah dan ini terlihat sekali. Ini berkaitan dengan masalah yang saya alami. Waktu itu ada yang berkomentar bahwa saya berteman “ke sana ke sini”, tidak di satu kelompok saja. Menurut saya itu aneh. Berteman ke siapapun kan harusnya tidak masalah, apalagi kita sudah dewasa. Justru menurut saya, bergaul dengan banyak kelompok itu bagus dan tidak salah. Masalahnya, terkadang ada anggapan bahwa orang luar kelompok tidak sefrekuensi. Semisal orang dari Jawa dan dari Timur itu tidak “sefrekuensi”. Padahal menurut saya justru seru, karena kita bisa belajar banyak hal baru dari mereka.

Menurut Rere, apakah semua teman harus menjadi guru setelah lulus?

Tidak semua Bu. Menurut saya, mereka berhak memilih jalan masing-masing, yang mereka suka, Bu. Kalau dipaksakan menjadi guru padahal tidak minat, nanti malah tidak menjalani dengan senang. Tapi tetap, nilai-nilai kepercayaan itu seharusnya dibawa ke mana pun mereka pergi. Misalnya bekerja di dinas kebudayaan, dinas pendidikan, atau menjadi penyuluh, semua itu tetap bisa menjadi ruang untuk mengenalkan nilai-nilai tersebut.

Kalau Rere sendiri?

Saya ingin menjadi guru SD.

Apa hal paling menarik yang Rere temui dari teman-teman dari berbagai daerah?

Banyak sekali. Salah satunya karakter yang berbeda-beda. Saya juga kagum dengan teman-teman dari Indonesia Timur. Mereka sangat percaya diri dengan diri mereka sendiri. Saya kagum dengan warna kulit mereka, seperti kulit asli orang Indonesia. Cantik. Mereka tidak terlalu bergantung pada hal-hal seperti skincare, tapi justru terlihat alami dan bagus. Saya suka sekali melihat itu. Selain itu, mereka juga masih sangat menjaga budaya. Dari cara berbicara pun terasa lebih santun. Tidak seperti anak zaman sekarang, yang lebih populer memakai kata “gue-elo” untuk merujuk ke saya dan kamu. Berbeda dengan sebagian anak kota sekarang yang sudah banyak terpengaruh budaya luar.

Adakah pengalaman kebersamaan yang berkesan?

Ada juga. Misalnya teman-teman yang tidak mendapat beasiswa, mereka biasanya hidup bersama dengan cara berbagi. Mereka suka bercerita, begitulah cara mereka bertahan hidup. Kalau ada yang mendapat kiriman uang lebih dulu, mereka belanja ke pasar bersama, lalu masak dan makan bersama. Nanti gantian. Baik perempuan ataupun laki-laki mereka bekerja sama. Saya juga pernah ikut masak dengan mereka, terutama dengan teman-teman dari Timur. Sekitar tiga atau empat kali. Saat itu waktu salah satu dari mereka ulang tahun. Re datang dan tidak perlu ikut iuran. Saya kukuh ingin membayar, tapi tidak diterima oleh mereka sehingga saya yang mengalah. Meski begitu tapi sambutan dari mereka tetap hangat, kekeluargan sekali.

Berarti kalau berkumpul dengan satu komunitas juga karena faktor ekonomi ya Re?

Betul. Jadi bukan karena tidak mau berbaur, tapi karena memang saling membantu untuk bertahan hidup.

Nah Re, selama di Semarang bagaimana komunikasi dengan mama?

Setiap hari komunikasi sama mama. Tapi biasanya singkat. Paling tanya sudah makan atau belum, sedang apa, lalu selesai. Saya terakhir pulang pun saat lebaran kemarin bersama om.

Kalau untuk saat ini, situasi PJJ di Pekalongan gimana?

Di Pekalongan sudah sangat sedikit, terutama generasi mudanya. Banyak yang akhirnya mengikuti agama tertentu. Bahkan di keluarga saya sendiri juga begitu. Ada yang menikah dengan pasangan beragama lain, lalu anak-anaknya mengikuti agama tersebut. Kebanyakan dari mereka memang sudah tidak lagi berminat pada PJJ, dan itu sangat disayangkan. Padahal ini kan kepercayaan lokal asli Indonesia. Harusnya ada yang melestarikan.

Bangga ya Re menjadi seorang penghayat Kepercayaan?

Saya bangga sekali. Bisa mewariskan kepercayaan lokal Indonesia sekaligus budaya dan nilai budi pekertinya yang sekarang sudah jarang diketahui orang. Seperti yang sudah saya katakan, sekarang anak-anak lebih sering memakai Bahasa Indonesia ketimbang Bahasa Ibu sendiri. Begitu juga dengan kepercayaan.

Kalau di keluarga, pernah punya pengalaman diskriminasi?

Kalau saya sendiri sih enggak. Tapi Re pernah mendengar soal mama. Jadi, di daerah Re kebanyakan orang-orangnya beragama ‘resmi’. Kebiasaan tetangga suka bergosip. Mereka sempat membicarakan mama. Katanya mama orang kafir. Saat itu mama hanya terdiam, tidak mengelak, dan membiarkan saja omongan itu seperti angin lalu. Para tetangga kan tidak tahu, yang tahu kepercayaan mama kan mama. Kejadian itu jujur saja membuat saya takut. Saya khawatir jika nanti saya akan diperlakukan seperti mama dan tidak bisa membayangkan jika sampai dipersekusi seperti kejadian-kejadian persekusi penghayat lokal atau misalnya ada yang membakar rumah adat begitu.

Rere dan mama

Apa harapan Rere jika sudah lulus nanti?

Saya ingin menjadi guru dan berkontribusi dalam pendidikan, khususnya dalam mengenalkan kembali nilai-nilai budaya dan budi pekerti kepada anak-anak. Saya ingin pengalaman kepenghayatan yang saya alami tidak berhenti pada diri saya, tapi bisa menjadi pembelajaran bagi generasi berikutnya.

Sebagai Penghayat, apa yang mau disampaikan ke teman-teman di luar sana?

Saya ingin mengajak teman-teman untuk mengenal kepercayaan. Saya ingin memperkenalkan tentang kepercayaan itu, tidak sama seperti yang sering dibayangkan orang. Di dalamnya banyak belajar tentang budi pekerti, sopan santun, dan nilai-nilai yang sebenarnya universal. Mereka tidak harus menjadi Penghayat, tapi setidaknya tahu dan memahami. Supaya tidak salah paham. Agar mereka tertarik untuk tau lebih banyak tentang Penghayat.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button